Sullam al-Munawraq | سلم المنورق
Daftar Isi
Bab Qiyas
إِنَّ القِياسَ مِنْ قَضايا صُوِّرا ... مُسْتَلْزِماً بِالذَّاتِ قَوْلاً آخَرا
ثُمَّ القِيَاسُ عِنْدَهُمْ قِسْمَانِ ... فَمِنْهُ مَا يُدْعى بِالاقْتِراني
وَمِنْهُ مَا يُدْعَى بِالاسْتِثْناءِ ... يُعْرَفُ بِالشَّرْطِ بِلا امْتِرَاءِ
Qiyas adalah susunan kalimat yang terdiri dari dua pernyataan (qadliyah), yang dari keduanya secara otomatis menghasilkan satu kesimpulan baru.
Dua pernyataan tersebut disebut:
- Muqaddimah sughra (premis kecil)
- Muqaddimah kubra (premis besar)
Sedangkan hasil akhirnya disebut natijah (kesimpulan).
Pembagian Qiyas
Dilihat dari unsur dan bentuk natijah-nya, qiyas terbagi menjadi dua:
1. Qiyas Iqtirani
yaitu qiyas di mana kesimpulannya sebenarnya sudah ada di dalam dua premis, hanya saja belum ditampilkan dalam bentuk kalimat yang utuh—yang tampak hanya unsur-unsurnya saja. Qiyas Iqtirani biasanya berbentuk qadliyah hamliyah (lihat penjelasannya di bab qadliyah).
Contoh:
العالم متغير، وكل متغير حادث → العالم حادث
(Alam itu berubah, dan setiap yang berubah itu baru → maka alam itu baru)
Unsur-unsur kesimpulan, yaitu العالم (alam) dan حادث (baru), sebenarnya sudah ada di dalam dua premis. Namun, bentuk lengkap kesimpulan (العالم حادث) tidak disebutkan secara langsung dalam premis.
2. Qiyas Istitsna’i
Qiyas yang natijah-nya disebutkan secara lebih eksplisit melalui bentuk pengecualian (pembahasan lebih detail akan dijelaskan di bab selanjutnya).
{Pembahasan ini menjadi pintu awal untuk memahami ilmu tashdiq, yang sebelumnya sudah disinggung pada bab terdahulu.
Secara bahasa, qiyas berarti membandingkan atau mengukur sesuatu dengan sesuatu yang lain karena adanya kesamaan. Adapun secara istilah, qiyas adalah susunan dua pernyataan atau lebih yang ketika digabungkan, secara otomatis melahirkan satu kesimpulan baru.
Contohnya:
“Alam itu berubah-ubah, dan setiap yang berubah-ubah adalah baru, maka alam itu baru (tidak kekal).”
Contoh ini terdiri dari dua pernyataan (premis), yaitu:
1. Alam itu berubah-ubah.
2. Setiap yang berubah-ubah adalah baru.
Dari dua premis ini, tanpa membutuhkan tambahan pernyataan lain, secara langsung dapat disimpulkan bahwa alam itu baru (tidak kekal).
Dengan pengertian ini, kita bisa memahami bahwa tidak semua susunan kalimat bisa disebut qiyas. Jika hanya terdiri dari satu pernyataan saja, maka jelas itu bukan qiyas. Begitu juga jika rangkaian kalimat tersebut tidak melahirkan kesimpulan baru, maka itu juga tidak termasuk qiyas.
Misalnya:
“Manusia adalah hewan yang bisa berpikir, dan setiap yang bisa berpikir disebut nathiq, maka manusia disebut nathiq.”
Sekilas ini terlihat seperti qiyas, tetapi sebenarnya bukan. Kenapa? Karena kesimpulan yang dihasilkan tidak benar-benar “baru”, melainkan hanya pengulangan makna dari pernyataan pertama. Dengan kata lain, tidak ada informasi baru yang dihasilkan dari susunan tersebut.
Jadi, inti dari qiyas adalah: harus ada dua premis (atau lebih) yang ketika digabungkan benar-benar menghasilkan kesimpulan baru, bukan sekadar mengulang apa yang sudah disebut sebelumnya.
Begitu juga, jika dua qadliyah tampak menghasilkan kesimpulan baru, tetapi tidak secara langsung dari hubungan inti keduanya, melainkan membutuhkan bantuan premis lain, maka itu tidak termasuk qiyas dalam pengertian ini.
Contohnya:
“A sama dengan B, dan B sama dengan C.”
Sekilas kita bisa menyimpulkan “A sama dengan C”. Namun, kesimpulan ini sebenarnya tidak lahir langsung dari dua pernyataan tersebut. Ia masih membutuhkan premis tambahan, yaitu:
“Setiap sesuatu yang sama dengan sesuatu yang sama dengan yang lain, maka ia juga sama dengan yang lain tersebut.”
Barulah setelah ada premis tambahan ini, bisa disimpulkan:
“A sama dengan C.”}